Friday, March 9, 2012

Loner Had Her Time II

Hari demi hari saya habiskan di Koszalin, Polandia dengan temperatur dingin disetiap detiknya. Kadang -10 derajat Celcius, atau bahkan mencapai -21 derajat Celcius. Baru dua hari tinggal disana, saya langsung kena demam. Ketebak sih, karena imunitas yang kurang baik, bisa dibilang juga belum sanggup adaptasi dengan cuacanya yang ekstrim. Tidak sedikit juga teman yang memberitau saya bahwa cuaca ekstrim menyebabkan kurang lebih 100 penduduk Polandia mati kedinginan. Kalau memang begitu, artinya saya datang kesini untuk mengejar maut.

Perbedaan cuaca yang drastis, perbedaan bahasa dan kultur menyebabkan serba nanggung dan canggung. Atau kadang yang sudah direncanakan malah buyar seketika mengetahui temperatur yang tidak bersahabat. Tetapi, semakin hari tubuh saya semakin membaik dan mampu beradaptasi dengan kejamnya rezim cuaca di Eropa.

Banyak hal yang ingin dibicarakan kepada keluarga Gall, karena kemampuan bahasa saya yang serampangan, maka bicarapun terbata-bata. Entah mereka menyebut saya pendiam, judes, atau bodoh, who knows? Haha, padahal kalau berbicara dengan bahasa Ibu, saya bisa bicara 1 jam gak berhenti-berhenti.

Sudah jelas perbedaan kultur yang bertolak belakang. Dimana saya biasa memanggil orang yang lebih tua dengan sebutan sendiri; “ibu”, “Kakak”, “mas”, “bapak”, dll. Tapi disana, semua umur dianggap sama. Saking bingungnya, saya panggil Ibunya Gall dengan sebutan “Madam”, konyol pasti, tapi itulah kultur yang biasa saya lakukan di Negara saya. “Panggil saja Goscha dan Jupi” kata kakakku menyebutkan nama panggilan untuk kedua orangtua Gall. Hm, tiba-tiba terbayang apa yang akan terjadi jika saya memanggil nama kedua orangtua saya tanpa embel-embel penghormatan. “Sri, aku berangkat dulu yah!” atau “Pas (Paskah), aku pulang telat kayaknya hari ini, harus ngeprint tugas dulu” agak-agak gimana gitu yah… (ga sanggup jelasinnya).

Selera makan juga menurun drastis disana. Berasa gak jelas apa yang dimakan, semua serba plain. Intinya, gak ada makanan yang bisa saya nikmatin disana kecuali TELOR DADAR PAKE ABON SAMA KECAP ABC yang saya bawa dari Indo pesanan kakak saya. Duh! Glorious Feeling banget!! Berasa nemuin harta karun. Hal ini adalah salah satu alasan kenapa saya homesick.

Budaya cebok yang aneh setelah buang air juga membuat saya kelu. Memang harusnya, saya ditraining dulu sebelum pergi ke Eropa. Basic Life Survival. Bagaimana cebok yang baik dan benar menggunakan tisu toilet. Sugestinya yang bikin gak nahan, berasa gatel pantat. Sehingga selama 8hari tinggal disana, saya hanya 2x melakukan ritual sakral.

Seminggu saya habiskan di Koszalin, Polandia bersama kakak, Gall dan Kirana. Waktunya untuk berpindah tempat dan menjelajahi apa yang harus dijelajahi, Amsterdam. Naik bis dari Koszalin menuju Amsterdam bersama tante saya (Jeje) membuang waktu sekitar 16 jam kurang lebih. Rencananya, sesampainya di Amstelstation saya akan dijemput oleh teman ayah saya, karena saya sudah janji untuk tinggal di rumahnya selama saya disana. Namun, detik demi detik.. menit demi menit berlalu.. gak punya telfon, dan telfon umum di sana rata-rata udah gak berfungsi dengan baik. Akhirnya saya memutuskan untuk ikut Jeje ke flat adiknya di Enschede-kota lain-naik kereta.

Kali pertamanya saya naik kereta sebagus ini seumur hidup. Semuanya rapi, tertib dan disiplin. Berkhayal kalau di Indonesia ada kereta kaya gini, saya yakin udah gak butuh mobil lagi buat pergi ke kampus. Tapi katanya gak fair untuk membandingkan Negara kita dengan Negara lain yang lebih maju. Oke, jadi khayalan itupun buyar seketika. Biarkan saya menikmati ketertiban ini hanya di Negara lain yang bukan Indonesia.

Sampai di Enschede, jalan dari station ke flat adik Jeje yang lumanyun jauh, hehe. Karena memang semua orang harus terbiasa berjalan kaki disini. Juga memang memadai untuk berjalan kaki. Mereka memang menghargai pedestrian, sesaat kami mau menyebrang mobil yang akan lewat sudah berhenti 7 meter sebelum kami, tapi tentu dengan syarat “menyebranglah di tempat yang seharusnya. Zebra cross”. Trotoar yang dibikin nyaman dengan gak adanya PKL dan sampah bertebaran bikin jalan kaki adalah hobi baru di Eropa.

Negara maju memang sangat menghargai manusia, SDM pun dibayar sangat mahal. Sehingga manusia memang diagung-agungkan. Dibuat system dimana manusia dapat berjalan kaki dengan nyaman, nyebrang dengan selamat dan sampai rumah dengan aman. Menurut saya itu adalah hal-hal basic yang mereka persembahkan kepada warganya sebagai manusia terhormat. Negara saya –yang-tak-ingin-saya-sebutkan-namanya- entah masih menghargai manusia apa tidak. Hal-hal basic pun tak mampu dipegang. Bagaimana mengatur public transportation, trotoar yang dipenuhi oleh PKL dan sampah yang menggunung sehingga para pedestrian gatau mau jalan dimana. Atau alter ego para pengemudi kendaraan bermotor yang lebih mendahulukan keadan dirinya yang seolah-olah terburu-buru atau memang tidak sabaran daripada mempersilahkan pedestrian untuk menyebrang terlebih dahulu. Sehingga, memang tidak sedikit yang meregangkan nyawa di jalanan karena saling bersilangan, hal biasa kok di Negara kami, jadi gak perlu dibawa tegang, lagipula gak fair membandingkan dengan dengara maju yang lain. Ya, tapi mau sampai kapan? Sampai semua warga Negara mati ditengah jalan?

Memang system sangat berpengaruh terhadap perilaku manusia. Tinggal ditempat yang memiliki system yang disiplin maka sikap para masyarakatnyapun menjadi disiplin. Karena semua dapat berubah, manusia dapat beradaptasi kok, saya yakin. Memang harus dipaksa untuk banyak masyarakat yang kurang pendidikan seperti di Negara saya. Dipaksa berhenti pada saat lampu merah. Dipaksa berjalan pada saat lampu hijau. Dipaksa berhati-hati yakni lebih baik berhenti daripada jalan pada saat lampu kuning. Dipaksa berjalan kaki atau naik sepeda daripada naik motor atau naik mobil. Angkutan umum dipaksa untuk memberikan kenyamanan pada penumpangnya. Pedestrian dipaksa untuk berjalan di trotoar dan nyebrang di zebra cross. Lalu lintas dipaksa untuk lebih rapih. Untuk mendisiplinkan, dan membentuk sikap disiplin, juga pola pikir manusia di Negara ini untuk lebih terarah dan terorganisir. Ya, begitulah sepertinya lika liku di negeri ini, kanan salah kiri salah.

Karena tujuan awal adalah Amsterdam, setelah istirahat beberapa jam di Enschede, saya balik lagi ke Amsterdam naik kereta, sendirian. Naik kereta pertama kali sendirian di Negara orang tentu bukan hal mudah, secara psikologis. Banyak yang ditakutkan, intinya takut nyasar dan salah naik kereta, karena keretanya ga lurus-lurus aja, mesti ganti kereta dulu di kota tertentu.

Amsterdam, kota yang klasik, menarik dan artistic. Sepeda udah bukan lagi jadi hal mainstream karena semua orang pakai dan sudah menjadi kebutuhan. Bahkan dibuat jalur sepeda di jalan raya. Kanal-kanal dengan sungai yang membeku karena temperatur dibawah nol, dipakai untuk bermain ice skating oleh warga sekitar. Pokoknya, Amsterdam memainkan perasaan saya.

Tidak berlama-lama di Amsterdam, karena saya harus kembali ke Berlin untuk bertemu Aisha, sahabat saya. Naik Eurolines Amsterdam-Berlin menghabiskan 13 jam kurang lebih, sebenarnya saya yakin tidak akan selama itu kalau saja bis nya gak berhenti lama di suatu tempat entah apa itu namanya. Tengah malam buta, pada saat memasuki perbatasan Jerman, bis kami diberhentikan oleh polisi. Katanya pengecekan paspor. Padahal banyak yang bilang kalau pengecekan paspor di perbatasan Negara itu sudah lama tidak dilakukan lagi. Mungkin memang lagi apes aja, atau pengecekan paspor itu dilakukan secara random. Jadi kadang ada kadang ga ada, seperti bulu di tubuh, ado, nda ado, ado lagi, nda ado lagi, dst. Persis sepasang kekasih duduk didepan saya. Dan berciuman tepat didepan saya, sedangkan saya duduk sendiri.

Penuh haru dan canda, bertemu dengan sahabat yang kurang lebih sudah 2 tahun ga ketemu. Aisha, adalah teman pertama saya waktu SMA. Kelas 2 dan kelas 3 kami habiskan waktu bersama di kelas, di tempat les, di rumah saya, di kosannya dan di mana-mana. Keputusannya untuk melanjutkan sekolah di Jerman membuat saya tercengang. Tapi begitulah hidupnya, dari ngekos lanjut ke ngekos, ya gak? Hihi.

3 hari bersama Aisha di Negara orang adalah pengalaman berharga buat saya. Betapa sulitnya survive tanpa ada keluarga. Cari uang kerja di pabrik Koran buat nambahin jajan. Saya tanya “ko jauh-jauh ke Jerman ujung-ujungnya jadi buruh?” katanya “kalau gak gitu gak bisa jajan, Bel. Pasti maunya ngirit mulu.” Aisha adalah contoh manusia yang bisa beradaptasi, walaupun terpaksa. Dia beradaptasi dengan kerasnya Euro, maka bekerja. Katanya “awal-awal emang selalu bandingin sama Rupiah kalau mau beli apapun, tapi kata Sayid kalau gitu terus kapan bisa nikmatinnya?” Untungnya Aisha punya pacar dan teman-teman yang baik disana. Saya jadi gak begitu susah buat ninggalin pulang dia disana.

Lahir dan kembali, datang dan pergi memang selalu menjadi sesuatu yang structural, keharusan. Tanggal 14 Februari, tepat hari valentine dimana semua orang menganggapnya sebagai hari kasih sayang, lalu saya meninggalkan orang yang saya sayangi di Negara orang. Kembali ke Negara sendiri, melegakan karena akhirnya kembali ke zona nyaman dimana bisa ngomong ceplas ceplos tanpa perlu khawatir ada orang yang gak ngerti apa yang saya omongin.

Banyak belajar selama melakukan perjalanan sendiri di Eropa. Dari yang kecil sampai yang besar. Dari yang penting sampai yang gak penting. Intinya, saya telah melakukan sedikit orientasi untuk hidup saya kedepan. Apa yang harus saya lakukan, apa yang saya butuhkan, apa yang akan menjadi patokan. Kemana saya akan tinggal dan pergi setelah ini.

Jadi, Eropa tunggu saya di kehidupan yang akan datang..

Loner Had Her Time I

Sebagai mahasiswa berdedikasi tinggi, liburan akhir semester 5 yang hanya 1 minggu itu saya habiskan lebih dari 1 minggu, mengunjungi kakak saya, suaminya dan anaknya yang notabene adalah keponakan saya. Seperti prinsip ekonomi; dgn modal seminim mungkin menghasilkan untung semaksimal mungkin, liburan ini pun saya isi dengan prinsip mahasiswa-kenyang-tugas-haus-liburan; dgn waktu sesingkat mungkin liburan sejauh mungkin.

Kebetulan, kakak saya menikah dengan seorang Polish dan tinggal sementara disana pasca melahirkan ini. Maka saya mengunjungi kakak saya di Polandia yang nun jauh disana, sendiri.

Pergi jauh sendiri tidak begitu menakutkan bagi saya, justru saya menikmatinya. Oiya, ini adalah trip pertama saya dalam umur 20 tahun lintas benua dan sendirian. Jadi seberapa menakutkannya pergi sendirian, tertutup oleh kebahagiaan saya bagaimanapun juga. Dengan menggunakan pesawat punya Negara Qatar (karena costnya paling murah), satu-satunya resiko yang harus saya terima adalah satu pesawat dengan para TKI dari berbagai macam daerah. Beruntungnya saya, karena pada saat berangkat TKI nya tidak begitu banyak-hanya beberapa, mungkin karena jadwal keberangkatan yang terlalu dini, Pukul 00.30 WIB. Saya duduk bersebelahan dengan orang Indonesia, bapak-bapak, alhamdulillah gak macem2.

Transit di Doha selama kurang lebih 4 jam gak begitu terasa, karena yang saya lakukan sewaktu turun dari pesawat adalah mencari gate, dan untungnya saya menemukan colokan listrik untuk men-charge hp sambil internetan-kirim kabar sana-sini hanya untuk memastikan bahwa saya transit dengan selamat di Doha.

Destinasi berikutnya adalah Berlin, Jerman. Dimana pesawat saya landing dengan selamat. Saat itu, Berlin sedang hangat-pancaran sinar Matahari yang menembus kaca jendela bandara-membuat saya berpikir “apa bakal sedingin yang dibayangkan?” karena isunya pada saat saya datang kesana akan menjadi udara yang paling dingin, berhubung pemanasan global dan iklim yang ekstrim. Ternyata, pancaran sinar Matahari yang hangat tidak dapat merepresentasikan pribadi orang-orang barat yang dingin dan kaku…

Bermodal Longjohn, sweater turtleneck, jaket pacar yang lumayan tebal, celana jeans yang lumayan ketat, syal tebal, coat warisan kakak dan sepatu boots khusus salju, saya memberanikan diri keluar bandara untuk mencari sesuatu yang bisa saya lakukan. Gall-suami kakak saya-telah memesankan saya tiket travel untuk ke Koszalin, Polandia. Sehingga saya harus mencari dimana travel itu akan berhenti. Setelah melakukan orientasi tempat, saya harus memberitahu kakak saya bahwa saya telah sampai di Tegel, Berlin. Unfortunately, I had no credit in my cellphone L Lalu saya berinisiatif untuk memakai telfon umum. Satu yang dibutuhkan:koin. Banyak toko yang bisa dikunjungi, dan entah kenapa barang pertama yang saya beli untuk mendapatkan kembalian koin adalah, HARIBO rasa kola.


Thursday, January 19, 2012

level-levelan

gak pernah kepikiran kalau yang namanya pacaran itu sebegini beratnya. berat karena levelnya udah tinggi.

kalau di levelin dari pengalaman yang udah-udah sih, yang namanya pacaran tingkat sekolah menengah atas itu bahagianya setengah mati karena sifatnya masih main-main coba-coba. kamu gak perlu pikirin bagaimana ini dan itu akan terjadi kelak.
tugas kamu adalah hanya bagaimana bisa semesra mungkin, panggilan sayang yang khusus tanda bahwa orang ini spesial lalu dijadikan nama untuk contact di hape, telfon-telfonan sampai ketiduran, jalan-jalan, nulis wall di facebook pacar, hujan-hujanan, jalan kaki, cari perhatian sm pacar kalau di sekolah, ngomong "love you, miss you" dan kalimat-kalimat romantis dangkal lainnya, tau dangkal tau gombal tapi tetep aja senengnya setengah mampus. pokoknya bener-bener ngerasain dari a-z itu, yang seneng, sedih, cemburu, galau, klepek-klepek, bete dicuekin, tapi kadang suka so cuek juga biar pacar tau rasa, curhat sana sini sama temen. dan masih ada 1000 hal aneh yang mengharukan lainnya pokoknya semua serba perasaan deh. pacaran ala remaja hingga 18tahun.

pacaran level kuliah ini agak sedikit…nanggung. karena gak tau mau dibawa kemana. yang jelas, you are 19 being 20 years old. bukan umur yang bisa dibilang mengambil tindakan atas dasar permainan belaka. ya, banyak hal yang harus kamu pikirin mateng mateng di umur ini. termasuk pacaran, gak mungkin juga kalau dibilang pacaran hanya sebatas main-main dan coba-coba, tapi dibilang serius juga, bisa apa kita? jadi semuanya serba ngambang. kaya tai di sungai.

karna mahasiswa dan banyak pertimbangan, semua tindakan ya diperhitungkan terlebih dahulu. kaya jarang telfonan (atau malah gak pernah) karena sayang pulsa, kalau bisa semua komunikasi via internet yang jaringannya menguntungkan karna gak makan uang banyak. maklum mahasiswa harus hemat. gak sempet mikirin panggilan sayang, apapun panggilannya asal jangan dipanggil 'anjing' atau 'bitch' sama pacar gak masalah, ya..rasional aja kan? yang penting selama dipanggil masih nyaut.

frekuensi pacaran yang seadanya, gak ada waktu buat ini itu karena tugas segabruk dan gak bisa ditinggalin. mau makan berdua aja sama pacar di tempat yang agak spesial pun harus mikir beribu-ribu kali karena "dengan alibi yang sama - mahasiswa harus hemat" daripada dipake buat makan di tempat yang agak mahal dan berbeda mending makan bareng sama temen kampus di tempat yang itu-itu lagi, yang penting murah. karena uangnya mau dipake buat biaya tugas.

kuliah adalah dimana kamu ingin orang-orang tau tentang kamu. ya, eksistensi. status mahasiswa adalah status yang paling strategis untuk membuka duniamu terhadap dunia luas. jadi efeknya kamu bisa saja terlalu bangga pada dirimu sendiri, sehingga waktu bersama pacarpun yang kamu bicarakan hanyalah tentang dirimu dan hobimu dan apapun tentangmu lah pokoknya. intinya banyak kegiatan senang-senang yang terhambat atas nama keuangan, namanya juga mahasiswa.
semua didasari atas nama rasionalisme dan kedewasaan.

sebenernya tulisan ini udah gue bikin dari berbulan-bulan lalu, tapi baru sempet di post sekarang. intinya, gue gak galau pagi-pagi buta. tapi galau berbulan-bulan yang lalu. tq.

Wednesday, January 18, 2012

20

anyeooong!
hari ini adalah genap seminggu gue berumur 20 tahun. how it feels so far? biasa saja, dengan banyak keluhan disekitar sini dan disekitar sana. hanya saja, bener2 gak nyangka ternyata org seperti gue bisa mencapai umur yang sakral bagi seorang remaja, yaitu berkepala dua. dan lumrahnya semakin banyak kepala, semakin banyak pikiran, dan semakin sering sakit kepala.

yang jelas, 20 tahun di 2012 ini gak akan gue sia-siakan. gue akan melakukan dan mencoba banyak hal baru, semua yg gue mau. jalan-jalan, kerja praktek, mabok-mabokan sampe perut gue buncit kaya busung lapar, merampok bank dan memberikannya pada orang2 miskin di sekitar gue (kan pitungwati ceritanya), berlari telanjang di tengah kota, dan mengajak Gledis bermain.

ngomong-ngomong tentang Gledis, siapa sih orang Arcamanik & Antapani yang gak tau gadis ini? cantik dan menawan namun gila. sebenernya dia gak gila, cuma ya gitu deh liat aja langsung. Gledis ini menurut gue adalah orang gila yang legend. yang gue tau, karirnya jadi orang gila sudah dimulai semenjak gue lahir. dan asal-lo-tau dia adalah tetangga gue, sampai gue kelas 5SD (karena gue pindah. bukan kepindahan gue bukan krn gue gamau bertetangga sama gledis). seinget gue (mendadak flashback) jaman kecil, dia suka main ke rumah, kita main barbie bareng, atau masak2an. dan teman bermain gue sewaktu kecil adalah orang gila, dan gue merasa seperti......apakah tidak ada anak normal yang mau bermain bersama?

jadi sebenarnya maksud dan tujuan si Gledis sang gadis legend ini ke rumah adalah, untuk ngamen atau semacam minta uang gitu, dan jelas gue gak pernah mengajak doi bermain bersama. karena gue tau kami beda dunia, kami dipisahkan oleh jarak ruang dan waktu.
seiring waktu berlalu, muncullah gosip kl Gledis menjadi seperti itu karena lehernya digigit tikus pada saat dia tidur di gudang. dia tidur di gudang bukan krn keinginannya, tapi keinginan keluarganya :'(
lalu, gue mendapati ciri khasnya yaitu doi suka bawa dompet ibu-ibu kalau lagi jalan-jalan. kadang penasaran isi dompetnya apaan, karena sekali-kali cukup terlihat tebal. tapi gue berekspetasi kalau isi dompetnya adalah...duit pura pura yang terbuat dari potongan koran. kalau iya, hm rajin juga gledis motongin koran.
wilayah jajahan gledis sepertinya sudah sangat jauh. karena dia bukanlah orang gila yang diam disatu tempat dan meratapi nasib. tapi dia adalah sang petualang. tiap hari hobinya jalan kaki, dari rumah ke suatu tempat yang gatau bakal berujung dimana. pernah waktu SD, dalam perjalanan pulang naik jemputan, gue mendapati dia sedang berjalan di sekitar Cicaheum. cicaheum dan arcamanik itu BUKANLAH JARAK YANG DEKAT UNTUK BERJALAN KAKI. itu waktu gue SD, mungkin sekarang pada saat udah kuliah, gue akan mendapati gledis berjalan menuju PVJ sambil membawa dompet andalannya itu.

Tapi buat yang gak suka sama zombie, mending gausah ketemu gledis. karena mereka 11:12. apalagi kalau gledis udah jalan di tengah jalan, gue kadang berasa dikejar kaya di film-film kl liat dia seperti itu.
gue tidak akan mem-postkan fotonya, karena kalian harus liat sendiri supaya suasana zombienya terasa. yang jelas hati-hati bagi para kaum pria karena dia suka memelorotkan celananya kalau dijailin sama laki-laki, minat?

sebenernya agak tidak mengerti, kenapa pada saat gue membahas ttg ke-20taunan ini disangkut pautkan sama gledis si orgil legend sang petualang. semoga ini bukan pertanda..

Sunday, January 1, 2012

1st jan

Psssssss.. (suara petasan yang agak melempem)

Gak kerasa udah tahun 2012, tahun yang diisukan adalah tahun dari akhir kehidupan kata Mama Loren. Doi tidak melihat adanya penanggalan untuk tahun 2013, dan gue yakin tukang kalender adalah profesi paling mulia di penghujung tahun 2012, karena memberikan secercah harapan untuk orang-orang yang jomblo yang masih pengen cari pacar kesana kemari, yang belum menikah dan ingin menikmati surga dunia di atas ranjang, dan yang kepingin foto pake toga dengan bangga sambil bilang “gue udah sarjana!”

Gue bersabda, apabila kita optimis tentang 2013 dan tahun tahun seterusnya, Tuhan pun luluh hatinya untuk menunda hari kiamat. Jadi, teruslah berdoa dan meminta pada Tuhan dengan tulus dan tidak bermuka dua, rayu Tuhan dengan cinta, bilang pada-Nya kalau kita masih memiliki cita-cita yang belum tercapai. Niscaya Tuhan bakal mikir 67264839429x


Resolusi?

Gak muluk-muluk, ada 3 resolusi di tahun ini. Tapi gak akan ngomong-ngomong karena rahasia ceritanya. Jadi dalam aturan hidup gue, resolusi adalah sesuatu yang diumbar keberhasilannya di akhir tahun.


Kuliah? Asmarah?

Yang gini-gini, no komen. Jalanin aja. Semua akan indah pada waktunya (quotes basi).


Kebetulan gue follow twitter si ramal-meramal versi Indonesia. Katanya bintang gue akan begini dan begitu, singkatnya tahun 2012 bukanlah tahun yang oke bagi karir dan bisnis yg gue jalankan. Habis baca begituan, langsung galau setengah mati. Jantung gue berdetak 82943x lebih cepat dari biasanya, tangan gue lemes, badan gue terkapar di lantai, gak berdaya, segerombolan lalat datang menghampiri gue, belatung keluar dari mulut, dan akhirnya gue adalah bangke manusia bekas KDRT yang gak dikubur selama 1 minggu sama suami.

Intinya, gue akan unfollow twitter itu, dan mulai percaya pada usaha dan upaya sendiri, juga opini astrologi yang manis manis saja, yang pait gulain aja biar jadi manis.

Inti dari intinya, gue akan menghadapi 2012 sampai titik darah penghabisan. Gue akan bersenang-senang di tahun ini dengan cara gue sendiri. Karena, hidup gue punya visi, dan 2012 akan diisi dengan misi-misi yang cuma gue doang yang tau titik

Wednesday, December 21, 2011

21 Desember 2011



21 Desember 2011
Mama, selamat hari ibu yah.
Mama, kamu tau aku sayang mama.
mama yang selalu memberikanku motivasi lebih dari siapapun.
mama yang selalu beranggapan bahwa aku adalah wanita yang
paling cantik pada saat yang lain tidak.
mama yang selalu tau bahwa aku punya visi dalam hidupku.
mama yang selalu membuatku menegakkan kepala pada saat dunia sedang menjatuhkanku.
mama yang tidak pernah melarangku mau pergi kemanapun aku harus.
quotes mama yang selalu membuat aku optimis "tidak ada yang tidak bisa dilakukan kecuali makan kepala sendiri".
lika liku hidup mama yang tidak mudah membuatku jauh lebih tegar, atau tepatnya lika liku keluarga kita. mama yang mengajarkanku diam dalam gemuruh, tertawa dalam ceria. mama dapat membuktikan kekuatan dari berpikir positif,
power of mind.

48tahun, kaupun pernah menjadi seperti aku. seperti kakak. hidupmu pernah jatuh dan tenggelam dalam kesalahan yang sama. dan kau menyelesaikannya dengan tindakan yang berbeda. mama, kamu mungkin bukan ora
ng hebat di negeri ini, upah kerjamu pun tidak mencukupi kebutuhanmu seorang diri. tapi, kamu tau cara membahagiakan banyak orang.
setiap nafasmu adalah inspirasiku.


mama, keep struggling until you don't have any air to breathe.
Happy Mother's Day :')

Sunday, December 4, 2011

not a joke



iseng-iseng photobooth pake efek popart.
iseng-iseng liat self photobooth juga setelahnya.
iseng-iseng nemu photobooth
popart beberapa abad yg lalu.
haha, mari kita melakukan komparasi.


kurang lebih 1,5 tahun yg lalu



sekarang, akhir tahun 2011.

waw, it's really not a joke. rambut saya memang tumbuh panjang. percaya gak percaya, cuma rambut di kepala ini yg gak di cukur selama 1,5 tahun. apa rambut yang lain dicoba juga ya gak dicukur selama bertahun-tahun?